Congregatio Discipulorum Domini

Para anggota Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuhan) menghayati hidupnya sebagai murid dan senantiasa belajar pada Yesus Kristus, sang Guru Agung. Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus menjadi ungkapan cinta dan penyerahan diri secara total. Dari sinilah para anggota menimba kekuatan untuk karya kerasulannya sebagai murid yang diutus untuk mempersiapkan orang menyambut Kristus di dalam hidupnya (bdk. Luk 10:1-12).

03 August 2010

Retret Para Frater CDD di RR Tegaljaya Denpasar 2010

Fr. Laurentius Fol Piluit CDD

Pada tanggal 14 Juli para frater skolastikat CDD melaksanakan retret akhir tahun yang didampingi oleh Rm Willy Malim Batuah, CDD di Tegaljaya Bali. Tema retret pada tahun ini adalah “Passion for Christ and (Com)passion for humanity.” Tema ini sebenarnya diambil dari pertemuan untuk para religius lembaga hidup bakti seluruh dunia yang diadakan di Vatikan pada tahun 2004.

Sebagai seorang religius Rm Willy ingin menyegarkan dan mengingatkan para frater akan makna panggilan sebagai seorang religius. Pertama-tama Rm Willy mengajak para frater untuk mencari makna “passion”. Passion yang secara sederhana diterjemahkan sebagai penderitaan kini memiliki keluasan makna. Passion diartikan penderitaan yang berdaya tahan akibat cinta kepada Allah. Dengan kata lain, saya berani menderita sebab saya mencintai Kristus. Rm Willy memberikan tahapan tahapan di dalam mencintai Allah yakni:

1. Saya mau menderita sebab saya menginginkan sesuatu.
2. Saya mau menderita sebab Kristus telah menderita demi saya (Menggandengkan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus). Banyak manusia yang biasanya masih sampai pada tahap ini.
3. Saya mau menderita sebab saya mencintai Kristus (Passion for Christ)

Nah berikutnya bagaimana hubungan Passion for Christ dan (Com)passion for humanity? Manakah yang harus dilakukan lebih dahulu? Seorang religius pertama tama harus mencintai Allah dulu. Tanpa cinta kepada Allah seorang religius di dalam menjalankan kehidupannya tidak akan berarti apa-apa. Cinta kepada Allah harus terwujud dalam perbuatan kepada sesamanya. Tidak bisa perbuatan kepada sesamanya baru kemudian mencintai Allah sebab dengan demikian perbuatan kepada sesama dapat digunakan untuk mencari popularitas pribadi. Seorang religius harus mencintai Allah terlebih dahulu maka segala perbuatan baik yang dilakukan kepada
manusia pasti berasal dari Allah.

Rm Willy mengajak para frater untuk mendalami teks kitab suci dari Injil Yohanes 4: 1-42 yakni percakapan dengan perempuan Samaria. Di dalam teks ini Rm Willy melihat bagaimana kehausan Allah yang diwakili Yesus bertemu dengan kehausan manusia yang diwakili oleh perempuan Samaria tentang air hidup. Yesus dan wanita tersebut digambarkan berani mengambil resiko untuk bertemu. Allah memulai percakapan-Nya “Aku haus” kemudian manusia menanggapi kehausan Allah. Kehausan Allah bertemu dengan kehausan manusia. Disinilah wanita itu mendapatkan kelegaan dari sumber air hidup yang sejati yakni Yesus Kristus sendiri.

Beberapa kata bijak yang saya petik:

1. Tidak ada yang namanya kasih yang mengalir dari orang miskin kepada orang kaya. Kasih itu berasal dari orang yang kaya kepada orang miskin. Misalkan: seorang miskin tidak mungkin memberikan sesuatu kepada orang kaya sebab ia sendiri kekurangan kalaupun ada pasti karena terpaksa. Seorang kaya dapat memberikan suatu kasih kepada orang miskin dengan dilatih terus menerus. Dari sini saya juga merenungkan tentang persembahan janda miskin dalam kitab suci. Janda miskin itu sebenarnya sangat kaya di dalam hal rohani. Ia mau memberikan dari kekurangannya. Secara materi memang miskin namun secara rohani cintanya kepada Allah sangat kaya raya sehingga ia mampu untuk membagikannya.
2. Seorang religius haruslah senantiasa memiliki kehausan yang mendalam terhadap Allah, dan kehausan ini ditimba di dalam merayakan misa setiap hari, doa-doa, devosi, dsb.

Bible Studi SMPK Kolese Santo Yusup 2 Malang

Oleh: Fr. Laurentius Fol Piluit, CDD

“Bible Study paling yahud
Anak-anaknya imut imut
Pujiannya girang-girang
Firman Tuhan ok punya
Bible study paling yahud”

Itulah salah satu lagu dari Bible study yang dinyanyikan oleh anak-anak SMPK Kolese St. Yusup II (Hua Ind) Malang dengan riang gembira. Acara Bible Study yang untuk pertama kalinya diadakan ini berlangsung dari tanggal 24-25 Juli 2010 di komplek sekolah Kolese St Yusup Malang. Acara Bible tahun ini diperuntukkan bagi siswa/I SMPK Kolese St. Yusup II kelas 7 dengan tema “Yesus Sahabatku.” Acara dimulai pukul 15.15 dengan registrasi para peserta Bible namun pada pukul 14.30 anak-anak sudah mulai berdatangan sehingga pada pukul 3 sore hampir seluruh anak peserta bible sudah datang.

Pukul 15.50 acara pembukaan dimulai sampai pukul 17.00. Kepala Sekolah SMPK Kolese St. Yusup II Bp. Drs Handoyo Soewandi berkenan secara langsung membuka acara Bible study tahun ini bersama dengan Pastor Agustinus Lie, CDD. Acara dibuka dengan puji-pujian, doa pembukaan, sambutan, perkenalan para frater.

Pukul 17.00 dimulailah sesi I dengan mengambil tema “Persahabatan Dewasa Ini dan Halangannya Menjadi Sahabat Yesus”. Sesi ini dibawakan oleh Fr. Petrus Diaz, CDD. Fr. Petrus mengajak para peserta untuk melihat nilai positif dan negatif persahabatan anak SMP dewasa ini yang lebih senang bersahabat lewat Facebook, Twitter, dsb. Kelemahan utama dari persahabatan lewat dunia maya adalah kita tidak dapat bersosialisasi secara langsung. Misalkan apabila kita merindukan seseorang bagaimana mengobati kerinduan kita? Hanya dengan dunia maya ataukah lebih terasa jika bertatapan secara langsung?

Pukul 18.00 anak-anak diajak untuk mendalami pengetahuan tentang Alkitab. Misalkan dengan mencari nama kedua belas para rasul, Yesus, Maria dan Yosef yang dikemas dalam bentuk permainan.

Pukul 19.00 -19.45 anak-anak makan malam bersama. Pukul 19.45 mereka kembali masuk ruangan dan melagukan puji-pujian. Pukul 20.00 mereka memasuki sesi selanjutnya yang dibawakan oleh Fr. Laurentius Fol Piluit, CDD. Pada Sesi ini mereka diajak untuk mendalami tema “Menjadi Sahabat Yesus.” Seorang dapat mengatakan kepada seseorang jika ia mengenal sahabatnya. Tidak mungkin orang yang baru berkenalan dengan orang lain langsung dapat mengatakan ia sahabatku. Di dalam Kitab Suci, salah satu ucapan Yesus yang berkaitan dengan persahabatan/untuk menjadi sahabat-Nya dapat ditemukan di Yoh 15:14: “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Apa perintah Yesus? Tiada lain Fr. Fol mengistilahkan dengan “Golden Rules” Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Bagaimana caranya mengasihi Allah? Yakni dengan berdoa dan membaca kitab suci. Untuk mendalami kasih kepada sesama, Frater mengajak anak-anak untuk mendalami kisah orang Samaria yang baik hati. Para penyamun melakukan 3 kesalahan yakni: merampok, memukul, dan meninggalkan dalam keadaan sekarat. Anak-anak disadarkan kita seringkali melakukan hal yang mirip dilakukan oleh penyamun itu. Kemudian Anak-anak diajak untuk meneladan orang Samaria yang tidak membeda-bedakan suku, agama, dsb.

Pada pukul 21.00, Fr. Pius, CDD mengajak anak-anak untuk merenungkan kehidupannya di dalam ibadat malam pertobatan. Banyak anak merasa terharu dan mulai membangun niat yang baru. Pukul 22.00 anak-anak istirahat malam.

Pada tanggal 25 Juli acara Bible study dimulai dengan misa hari minggu pukul 06.45-08.15. Setelah itu mereka makan pagi bersama dan bersiap melakukan permainan outdoor. Permainan dimulai pukul 09.15 dan selesai pukul 11.40. Di dalam permainan itu anak-anak diajak untuk bekerjasama dan mempraktekkan persahabatan yang sejati diantara mereka.

Acara Bible study ditutup pada pukul 12.00 oleh Bp Urbanus Sihombing (Wakil kepala sekolah) dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Semoga Bible tahun ini membuat anak-anak semakin menyadari bahwa mereka memiliki teman yang sejati, yang tak pernah meninggalkan mereka, yang tangannya selalu terbuka untuk menyambut mereka yakni YESUS KRISTUS.
Special Thx for: Para mudika dan pembina BIAK dari Algons (Vondy, Richard, Deny, Rey,
Moniq, Ce Ria, Allan, Gita, James, Anggie). Foto-foto bisa dilihat di http://www.picasaweb.com/cddprov

30 July 2010

Memoria = Identitas Diri

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Banyak yang mulai terlupakan. Penemuan teknologi ternyata sangat banyak membantu manusia untuk mengingat kembali. Apakah perlunya ingatan itu? Kalau dilihat secara sepintas, memang ingatan itu hanyalah suatu kenangan dari pengalaman-pengalaman masa lampau. Namun ada perbedaan besar antara kenangan (nostalgia) dan ingatan (memoria). Nostalgia memang membawa kembali manusia untuk melihat yang indah dari masa lalu, melihat kembali perjalanan hidupnya. Dan kenangan itu akan memberikan semacam semangat dan motivasi baru. Sementara memoria selain membawa orang kepada masa lalu dan bernostalgia juga membawa orang kepada suatu resolusi baru: apa yang bisa saya pakai dari pengalaman masa lalu itu untuk bertahan di masa ini dan mencapai yang lebih baik lagi di masa depan.

Dalam hidup, orang harus memiliki strategi agar dapat survive. Salah satu strategi adalah memaknai peristiwa atau pengalaman masa lampau, bukan memuaskan kerinduan atau nostalgia, tetapi untuk situasi saat ini, sekaligus utk merancang masa depan. Hasil utama dari survival adalah identitas diri.

Misalnya: bangsa Israel yang di mesir selama 450thn. Mereka memaknai pengalaman pahit perbudakan itu, maka muncul kesadaran di saat itu bahwa mereka tidak boleh tunduk pada, harus mengubah nasib. Maka muncullah peristiwa exodus. Setelah itu mereka pun ingin menjadi bangsa yg kuat, muncullah Saul, Daud, Salomo. Kemudian, sewaktu mereka dicerai beraikan, mengalami krisis sebagai bangsa, direndahkan sebagai bangsa buangan, mereka tidak tunduk pada nasib; mereka ingin bangkit lagi. Para nabi diutus untuk mengingatkan bahwa mereka adalah bangsa pilihat, umat Allah sendiri. Sepuluh suku yang tinggal di kerajaan Utara, karena melupakan hal yang paling pokok dalam kehidupan mereka, dan mulai kawin campur dengan suku-suku lain, mulai meninggalkan Allah, maka kesepuluh suku tersebut hilang. Sementara itu suku Yehuda yang berada di Selatan selalu menyegarkan memoria mereka akan panggilan Allah kepada mereka, akan status mereka sebagai bangsa terpilih, mereka mampu bertahan menghadapi segala tekanan. Memoria mereka menjadi pegangan dalam menampilkan jati diri mereka; memoria ini menjadikan mereka tidak hilang diterjang segala macam bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Bahkan mereka dapat menyebarkan memoria mereka kepada banyak bangsa di dunia. Dan tentu saja, inilah yang membuat mereka tetap eksis sampai hari ini.

Begitu juga dengan bangsa China, yang senantiasa preserve memory mereka. Mereka bangga akan sejarah mereka yang panjang. Melalui sejarah yang panjang ini, mereka belajar banyak dari kesalahan, bisa mengembangkan diri melalui pengalaman yang baik dan ajaran-ajaran para bijak, maka tidak heran mereka bisa menjadi bangsa yang besar dan kuat. Bahkan mereka bisa bertahan dan bangga bila makan menggunakan sumpit, meskipun banyak orang sudah biasa menggunakan pisau, sendok dan garpu.

Pada saat orang berada pada titik terendah hidupnya, apabila dia melupakan memory-nya, maka dia akan berhenti dari eksistensinya. Dia akan punah dengan sendiri karena kehilangan identitas. Tidak ada alasan baginya untuk bertahan hidup, dan kehilangan makna eksistensinya.

Banyak ordo dan kongregasi besar menjadi besar bukan karena jumlah anggotanya banyak, namun karena mereka memiliki memoria akan sejarah eksistensinya, menggalinya dan senantiasa menyegarkannya. Merayakan pendiri mereka, memperingati tokoh-tokoh pembaharu dalam tarekatnya merupakan suatu upaya yang utama dalam menyegarkan memoria tarekat tersebut. Selain itu senantiasa memaknai peristiwa saat itu dan ini (teristimewa pengalaman buruk) akan membuat mereka semakin sadar dan menghargai eksistensinya, serta membuat mereka tetap survive. Memoria inilah yang menjadi jati diri tarekat tersebut, yang membuatnya memiliki kekhasan dan berbeda, lain dari yang lain.

Inilah memoria dari CDD di Batu pada tahun 1983 (dari kiri ke kanan, bawah ke atas): P. Hilarius Sutiono, P. Willy Malim Batuah, P. Ma, P. John Chai, P. Andreas Ly, P. Joseph Wang, Inno Merep, Sipeng, Sabinus Merayang Ain, Ipik, Sunni S., P. Yandhie Buntoro, P. Johan Lianto, Br. Joseph Tumijo.

17 May 2010

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-44

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44
16 MEI 2010


Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital:
Media Baru demi Pelayanan Sabda



Saudara dan Saudariku Terkasih,

1. Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini - Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan Sabda- disampaikan bertepatan dengan perayaan Gereja tentang Tahun Imam. Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Berbagai komunitas Gereja sebenarnya telah menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri dalam masyarakat serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada jaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam yang berhasil guna.

2. Tugas utama semua imam adalah mewartakan Yesus Kristus, Sabda Allah yang inkarnasi dan mengkomunikasi rahmat penyelamatan-Nya melalui sakramen-sakramen. Dihimpun dan dipanggil oleh Sabda, Gereja menjadi tanda dan sarana persekutuan Allah dengan semua orang. Setiap imam dipanggil untuk membangun persekutuan dalam Kristus dan bersama Kristus. Di sinilah terletak martabat yang luhur dan indah perutusan seorang imam yang secara istimewa menjawabi tantangan yang ditampilkan oleh Rasul Paulus: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan ... Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Dan bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengarkan tentang Dia? Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus?" (Rom 10:11, 13-15).

3. Menggunakan teknologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dunia komunikasi digital dengan daya ekspresi yang nyaris tak terbatas mendorong kita untuk mengakui apa yang disampaikan oleh St.Paulus: "Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil" (1Kor 9:16). Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang kian berkembang menuntut tanggungjawab yang lebih besar dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil serta termotivasi, terarah dan efisien menunaikan usaha-usaha mereka. Para imam berada di ambang 'era baru': karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh pengaruh media komunikasi, demikian pula para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan Sabda.

4. Penyebaran komunikasi multimedia dengan ragam 'menu pilihan' tidak dimaksudkan untuk sekadar menghadirkan para imam di internet atau sekadar menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin-pemimpin komunitas yang terus menerus mengungkapkan dirinya dengan 'suara yang berbeda' yang dihadirkan oleh pasaraya digital. Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, fitur animasi,blog dan website) yang seiiring dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog, evangelisasi dan katekese.

5. Dengan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dapat memperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus. Hal ini akan dicapai dengan baik apabila mereka belajar -sejak dari masa pembinaan mereka- bagaimana memanfaatkan teknologi komunikasi secara kompeten dan selaras dengan pemahaman teologis yang mendalam dan spiritualitas imam yang kokoh, berakar pada dialog terus menerus dengan Tuhan. Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekadar sebagai ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dengan Kristus untuk memberikan 'jiwa' baik bagi pelayanan pastoralnya maupun bagi aliran komunikasi internet yang tak terbendung.

6. Kasih Allah kepada semua orang dalam Kristus mesti diungkapkan dalam dunia digital bukan sekadar sebagai benda kadaluwarsa atau teori orang terpelajar tetapi sebagai sesuatu yang sungguh nyata, hadir dan melibatkan diri. Oleh karena itu, kehadiran pastoral kita di dalam dunia seperti itu harus bermanfaat untuk memperkenalkan orang-orang jaman sekarang teristimewa mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan, "bahwa Allah itu dekat, bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki" (Benediktus XVI, Untuk Curia Romana, 21 Desember 2009)

7. Siapakah yang lebih baik dari seorang imam, yang sebagai abdi Allah dan melalui kemampuannya di bidang teknologi digital dapat mengembangkan dan menunaikan pelayanan pastoralnya, menghadirkan Allah secara nyata di dunia jaman sekarang dan menampakkan kebijaksanaan rohani masa lampau sebagai harta yang mengilhami usaha kita untuk hidup layak di masa kini sambil membangun masa depan yang lebih baik? Kaum laki-laki dan perempuan religius yang bekerja di bidang media komunikasi memiliki tanggung jawab istimewa untuk membuka pintu bagi berbagai pendekatan baru, mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati. Dengan demikian, mereka dapat menolong kaum laki-laki dan perempuan di jaman digital ini merasakan kehadiran Tuhan, menumbuhkan kerinduan dan harapan serta mendekatkan diri pada Sabda Allah yang menganugerakan keselamatan dan membangun manusia secara utuh. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpang siurnya aneka ragam 'jalan tol' yang membentuk 'ruang maya' dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap jaman, termasuk di jaman kita ini. Berkat media komunikasi baru, Tuhan dapat menapaki jalan-jalan perkotaan kita sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita dan mengatakan lagi: "Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk. Jika ada yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia dan dia bersama Aku" (Why.3:20)

8. Dalam pesan tahun lalu, saya telah mendorong para pemimpin di dunia komunikasi untuk memajukan budaya menghormati demi nilai dan martabat manusia. Ini merupakan salah satu cara di mana Gereja dipanggil untuk menunaikan 'pelayanan terhadap budaya-budaya' di 'benua digital' jaman sekarang. Dengan Injil di tangan dan di hati, kita mesti menegaskan lagi tentang perlunya mempersiapkan cara mengantar orang kepada Sabda Allah sambil memberikan perhatian kepada mereka untuk terus mencari bahkan kita harus mendorong pencarian mereka sebagai langkah awal evangelisasi. Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital justru mengantar kita untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya, menuntut kepekaan terhadap orang yang tidak percaya, putus asa dan yang memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak. Demikianlah seperti yang diramalkan oleh Nabi Yesaya tentang sebuah rumah doa bagi segala bangsa (bdk. Yes 56:7), dapatkah kita tidak melihat internet sebagai ruang yang diberikan kepada kita - semacam 'pelataran bagi orang-orang bukan Yahudi' di Bait Allah Yerusalem- yakni mereka yang belum mengenal Allah?

9. Perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia secara keseluruhan dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Perkembangan ini juga memberikan peluang besar bagi orang beriman. Tidak ada pintu yang dapat dan harus ditutup bagi setiap orang yang atas nama Kristus yang bangkit, memiliki komitmen untuk semakin mendekatkan diri kepada orang lain. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini tentang hidup baru yang berasal dari mendengar Injil Yesus, Putra Abadi yang datang demi keselamatan kita. Seiring dengan itu, para imam mestinya mengingat bahwa keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dari Kristus sendiri, yang ditemukan dan didengar dalam doa, diwartakan dalam kotbah, dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicinta dan dirayakan dalam sakramen-sakramen, khususnya sakramen ekaristi dan rekonsiliasi.
Untuk para imamku yang terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan unik yang disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-bentara Injil yang bersemangat di 'ruang publik' baru media dewasa ini.
Dengan penuh keyakinan, saya memohonkan perlindungan Bunda Maria dan Santo Yohanes Maria Vianey (Pastor dari Ars, pelindung para imam) dan dengan penuh kasih saya memberikan kepada anda sekalian berkat apostolikku.

Vatikan, 24 Januari 2010, Pesta Santo Fransiskus de Sales.
Paus Benediktus XVI

Komentar Pesan B16 Hari Komunikasi Dunia ke 44

Berikut ini adalah ringkasan dari pesan Bapa Suci B16 pada Hari Komunikasi Sedunia ke 44.
COPY PASTE DARI NOTES FB PASTOR DAMAS MANGSOMBE

"Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital :
Media Baru demi Pelayanan Sabda"

Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yg peka & penting, yg memberikan kemungkinan baru bg para imam dlm menunaikan pelayanan kegembalaannya, demi dan untuk Sabda Allah.

Penyebaran media komunikasi digital ini tak terbendung, serta dampak sosial yg besar pd jaman kini, krn itu semakin menjadi penting bg pelayanan imam yg berhasilguna. cfr. nmr. 1.

Imam - diipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil & memberi kesaksian yang hidup tentang Yesus Kristus yang diimaninya.

Ia dipanggil pula utk membangun persekutuan dalam & bersama Kristus. Disinilah terletak martabat luhur dan indah perutusan seorang imam. cfr. nmr. 2.

Dalam dunia komunikasi digital dg daya ekpresi yg nyaris tak terbatas, mendorong kita (khususnya para imam) utk mengakui dgn tegas apa yg disampaikan oleh st. Paulus, "Karena jika memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil."

Para imam berada di ambang 'era baru', karena smakin intensifnya relasi lintas batas yg dipengaruhi media komunikasi, demikian pula para imam dipanggul untuk memberikan jawaban pastoral dgn menempatkan media secara berdaya guna demi pelayanan sabda. cfr. nmr.3.

Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil dl dunia komunikasi digital, dgn berperan sbg pemimpin-2 komunitas yg secara kontinue & konsisten mengungkapkan dirinya dgn 'suara yg berbeda', yg dihadirkan pasaraya digital.

Para imam ditantang utk mewartakan Injil dgn menggunakan teknologi audiovisual yg paling mutakhir (gambar, video, fitur, animasi, blog dan website) yg seiring dgn media tradisional, dpt membuka wawasan baru dan luas demi dialog, evangelisasi & katekese. cfr. nmr. 4.

Dngan menggunakan teknologi komunikasi baru, para imam dpt memperkenalkan kehidupan menggereja dan membantu orang2 jaman sekarang menemukan wajah Kristus.

Dalam dunia komunikasi digital, para imam -lebih dari sekedar sgb ahli media- seharusnya mengungkapkan kedekatannya dgn Kristus, utk memberi 'jiwa', baik bagi pelayanan pastoralnya, maupun bg aliran internet yg tak terbendung. cfr.nmr. 5.

Kehadiran pastoral kita (para imam) di dlm dunia seperti ini (komunikasi digital), harus bermanfaat utk memperkenalkan orang-2 jaman sekarang, teristimewa mereka yg mengalami ketidakpastian dan kebingungan, "bahwa Allah itu dekat, bahwa di salam Kristus, kita semua saling memiliki." cfr. nmr. 6.

Dengan bantuan komunikasi digital, Sabda Allah dpt berjalan melintasi berbagai persimpangan yg tercipta, oleh simpang siurnya aneka ragam 'jalan tol' yg membentuk 'ruang maya' dan menunjukkan bhw Allah memiliki tempat-Nya yg tepat dlm setiap jaman, termasuk di jaman ini.

Berkat media komunikasi baru, Tuhan dpt menapaki jalan2 perkotaan kita, sambil berhenti di depan ambang rumah dan hati kita, dan mengatakan lagi, "Lihatlah, Aku berdiri di depan pntu dan mengetuk, jika ada yg mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama dia, dan dia amakan bersama Aku." cfr. nmr.6.

Kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital, justru menghantar kita utk berkontak dgn penganut agama lain, dgn orang2 tak beriman dan orang2 dr berbagai budaya, menuntut kepekaan thdp orang yg tdk percaya, putus asa dan yg memiliki kerinduan mendalam dan tak terungkapkan akan kebenaran abadi dan mutlak.

Yesaya pernah menungkapkan kerinduan akan sbh 'rumah doa' bagi sgl bangsa (Yes.56:7). Apakah kita tidak melihat internet sgb ruang yg diberikan kpd kita - semacam 'pelataran bagi orang2 bukan Yahudi' di Bait Allah Yerusalem - yakni mereka yg belum mengenal Allah ? cfr.nmr. 8.

Secara khusus bg para imam, media baru ini memberkan kemungkinan pastoral yg baru & kaya, mendorong mereka utk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yg luas & konkrit, serta memberikan kesaksian di dunia jaman ini tentang hidup baru yg berasal dari mendengarkan Injil Yesus, Putera Abdi yg datang demi keselamatan kita.

Seiring dgn itu, para imam mestinya mengingat bhw keberhasilan utama dari pelayanan mereka datang dr Kristus sndiri, yg ditemukan & didengar dlm doa, diwartakan dlm kotbah, dihidupi lewat kesaksian; dan diketahui, dicintai & dirayakan dlm sakramen-sakramen, khususnya sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi (Sakramen Tobat).

Untuk para imamku yg terkasih, sekali lagi saya mendorong anda untuk memanfaatkan kesempatan-2 unik yg disumbangkan oleh komunikasi modern. Semoga Tuhan menjadikan kalian bentara-2 Injil yg bersemangat di ‘ruang publik’ baru media dewasa ini.