Congregatio Discipulorum Domini

Para anggota Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuhan) menghayati hidupnya sebagai murid dan senantiasa belajar pada Yesus Kristus, sang Guru Agung. Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus menjadi ungkapan cinta dan penyerahan diri secara total. Dari sinilah para anggota menimba kekuatan untuk karya kerasulannya sebagai murid yang diutus untuk mempersiapkan orang menyambut Kristus di dalam hidupnya (bdk. Luk 10:1-12).

23 December 2009

BUKU DOA PERINGATAN DALAM CDD

Tahun ini, Kongregasi Murid-Murid Tuhan menerbitkan sebuah buku doa lampiran untuk ibadat harian yang berisi para santo pelindung dan peringatan-peringatan dalam CDD. Buku ini masih bersifat ad experimentum dan diharapkan agar para konfrater memberikan apresiasinya dengan mengirimkan kritikan yang konstruktif untuk penyempurnaan buku ini. Buku doa ini ditulis dan disusun oleh Fr A. Ignatius Sujasan CDD dan diberi judul Benedicite Domino Omnia Opera Eius.

PENERBITAN BUKU SEJARAH CDD AWALI

Untuk mengenal sejarah CDD dengan baik dan mendalam dibutuhkan suatu sarana yang memadai. Dalam hal ini, kita dapat menelusurinya melalui suatu buku sejarah. Untuk itu, provinsialat CDD Indonesia menerbitkan sebuah buku yang ditulis oleh Fr A. Ignatius Sujasan CDD dengan judul “Dari Xuanhua Menuju ke Taiwan”. Buku ini berbicara soal CDD awali dan perkembangannya sampai awal tahun 2000-an. Dalam arti tertentu, buku ini merupakan buku pertama tentang sejarah CDD awali dalam bahasa Indonesia yang cukup lengkap. Meskipun demikian, buku ini masih akan terus disempurnakan dengan masukan-masukan dari para konfrater. Maka diharapkan agar para konfrater membaca buku ini dan memberikan tanggapannya.

SEMINAR FORMATIO CDD INTERNASIONAL

Generalat Kongregasi Murid-murid Tuhan yang berkedudukan di Taiwan mengundang para formator CDD dari tiga propinsi untuk menghadiri Seminar tentang Formatio. Kegiatan formatio ini dihadiri oleh 3 Provinsi yakni propinsi Zhonghua (China), Malaysia dan Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di tegaljaya, Bali. Seminar berlangsung dari tgl 12 sd 14 Mei 2009. Dalam seminar ini, berbagai kegiatan dilakukan untuk membahas dan semakin mendalami model formatio CDD. Melalui Sharing pengalaman, kerja sama dan inforcement terhadap pedoman pendidikan CDD, diharapkan para formator semakin menemukan suatu bentuk yang lebih baik bagi pedoman pembinaan para calon Costantinian. Kegiatan seminar ini dihadiri oleh Pater General CDD, Stephen Ng CDD. Dari propinsi Indonesia hadir Pater Provinsial dan wakil Propinsial, magister Novisiat CDD Pastor Sukamto CDD dan Prefek Studen CDD Pastor Aguslie CDD.

LOKAKARYA PROMOSI PANGGILAN KWI

Pastor Rudy Saleh CDD mengikuti Lokakarya Promosi Panggilan Hidup Bakti yang berlangsung dari tgl 11 sd 14 Mei 2009 yang diselenggarakan oleh Komisi Seminari KWI. Kegiatan ini berlangsung di wisma Samadi, klender Jakarta. Untuk mengakses berita ini, kita dapat membaca majalah Hidup no 21, 24 Mei 2009. Ketika di wawancarai oleh wartawan HIDUP, Pastor Rudy Saleh mengatakan bahwa untuk saat ini, jarang sekali ada doa bersama dan makan bersama dalam keluarga-keluarga katolik. Orang tua sibuk dengan urusannya dan anak - anak sibuk dengan berbagai kegiatan. Dalam kondisi demikian, keadaan semakin tak kondusif karena orangtua tidak menanamkan nilai nilai rohani kepada anak anaknya sejak dini. Padahal keluarga adalah seminari pertama dan utama. Bahkan harus dikatakan bahwa keluargalah yang menjadi tempat pertama dan utama dalam pembinaan iman anak. Mari kita memberi apresiasi Kepada Pastor Rudy Saleh dan kita ucapkan juga selamat berkarya di RRC Ambawang, Pontianak.
Semoga bekal lokakarya yang telah diikuti semakin membantu Pastor Rudy untuk berkarya di lading Tuhan. Layanilah anak anak, sebagaimana Yesus membiarkan anak anak datang kepadaNya lalu.

Iman Katolik: Pilih Pemakanan atau Kremasi

(FX Didik Bagiyowinadi Pr)
29 10 2009

Sebagai orang Katolik manakah yang boleh kita pilih: pemakaman atau kremasi? Keduanya diperbolehkan. Tetapi manakah yang sebaiknya dipilih, kita simak pernyataan Gereja ini, “Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani” (Kan. 1176$3).

Prioritas pada Pemakaman Gereja memprioritaskan jenazah untuk dimakamkan daripada dikremasi dengan alasan:

1. Hal itu sesuai dengan praktek dalam Perjanjian Lama (Abraham, Ishak, Musa, dsb) dan Perjanjian Baru (Yesus, Stefanus). Bahkan Perjanjian Lama melihat jenazah yang tidak dikuburkan tetapi hangus dalam api sebagai hukuman Tuhan, mis. Sodom-Gomora (Kej 19:1-29), Jezebel (2 Raj 9:30-37),dan keturunan Ahab (1 Raj 21:17-24).
2. Dengan dimakamkan simbolisasi untuk dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman menjadi lebih jelas. Demikian pula sesuai dengan ilustrasi St. Paulus seperti benih yang ditaburkan ke tanah (1 Kor 15).
3. Pada masa penganiayaan Gereja oleh kekaisaran Romawi, jenazah para martir dimakamkan secara rahasia di kuburan bawah tanah yang disebut dengan katakombe. Mereka tidak mengikuti kebiasaan kafir Romawi yang membakar jenazah.
4. Gereja Katolik baru mengizinkan praktek kremasi pada tahun 1969. Namun, dengan memberi catatan bahwa alasan kremasi tidak boleh bertentangan dengan iman kristiani.
Mengapa Kremasi Diperkenankan?
Ada banyak alasan mengapa orang Katolik memilih kremasi dan hal itu bisa diterima oleh Gereja. Misalnya, alasan higienis pada jenazah yang mempunyai penyakit menular. Alasan ekonomis karena sedikitnya lahan untuk pemakaman, misalnya di Singapura. Alasan praktis dalam kasus korban kecelakaan yang jenazahnya hancur. Atau, bisa jadi sekedar mengikuti tradisi dan kebiasaan leluhur tanpa harus menolak iman akan kebangkitan badan.

Kremasi dan Kebangkitan Badan
Dalam diskusi apakah kremasi itu tidak bertentangan dengan iman Kristen, salah satu hal yang dipersoalkan adalah bagaimana mungkin orang yang dikremasi bisa turut dalam kebangkitan badan? Untuk menjawab keberatan ini mari kita melihat ajaran St. Paulus dalam 1 Kor 15:44, “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah”. Jadi, yang dibangkitkan pada akhir zaman nanti adalah tubuh rohaniah yang berbeda dengan tubuh alamiah yang dimakamkan, dikremasi, hilang di laut, hancur terkena bom Bali, ataupun dimangsa binatang liar. Bukankah tubuh alamiah yang dimakamkan pun akan terurai dengan tanah?

Bagaimanakah tubuh rohaniah itu? Gambaran tubuh rohaniah setelah kebangkitan bisa kita lihat pada Tubuh Yesus setelah kebangkitan, di satu pihak ada kemiripan dengan tubuh-Nya sebelum meninggal, ada lima luka di telapak tangan, lambung, dan kedua kaki. Tetapi, di lain pihak tidak sama persis dengan Tubuh-Nya saat disalibkan sehingga para murid sulit untuk langsung mengenali-Nya. Hal ini berbeda dengan kebangkitan Lazarus yang kemudian akan mati lagi.

Mungkin Anda bertanya, bagaimana mungkin tubuh yang dikremasi dan menjadi abu [sebenarnya partikel-partikel tulang itu bisa dibangkitkan oleh Tuhan? Jawabannya tentu saja Tuhan jauh lebih kuasa daripada pemikiran kita. Apalagi yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Dalam Kitab Wahyu 20:13 juga disebutkan penghakiman bagi mereka yang tidak dimakamkan, “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.” Jadi, apakah jenazah kita dimakamkan ataukah dikremasi kita tetap akan dihakimi dan dibangkitkan dalam tubuh rohaniah. Jiwa kita yang abadi tidak akan hilang, melainkan menerima kebahagiaan kekal atau hukuman kekal.

Alasan yang Bertentangan dengan Iman Katolik
Hukum Gereja di atas memberi syarat bahwa alasan kremasi tidak boleh bertentangan dengan iman Katolik, khususnya iman akan kebangkitan badan. Setidaknya ada dua alasan kremasi yang bertentangan dengan iman Katolik:
a. Orang-orang Yunani dan Romawi mengkremasi jenazah dengan alasan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Kematian justru melepaskan jiwa dari penjaranya. Maka mereka merasa tak perlu repot-repot lagi dengan jenazah yang bagi mereka sekedar penjara jiwa. Paham Yahudi-Kristiani melihat badan-jiwa-roh manusia adalah satu-kesatuan. Maka setelah kematian mereka menantikan adanya kebangkitan badan. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian memberi jaminan akan kebangkitan kita dan kemenangan atas kuasa maut.
b. Mereka yang menerima paham reinkarnasi menganggap bahwa kremasi akan mempercepat proses manusia lepas dari putaran reinkarnasi. Dalam paham panteisme, kremasi menjadikan jenazah orang itu segera bersatu dengan alam semesta. Paham demikian bertentangan dengan iman kristiani. Setiap orang diciptakan Tuhan secara unik. Pada akhir hidupnya masing-masing mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi” (Ibr 9:27). Mungkin ada yang berpikir, apakah surga bisa menampung semua orang yang pernah hidup di dunia ini sejak zaman purbakala? Pemikiran demikian terlalu materialistis. Kita bisa memegang janji Tuhan Yesus sendiri, “Di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat tinggal.”

Abu Kremasi Mesti Diapakan?
Dalam Order of Christian Funerals bagian Appendiks II no. 417 yang diterbitkan pada tahun 1997, diberikan catatan bagaimana kita mesti memperlakukan abu kremasi [sebenarnya partikel-partikel tulang]. Dua praktek yang dilarang adalah: penaburan/pelarungan abu kremasi ke laut/sungai, entah dari udara atau dari pantai, dan penyimpanan abu kremasi di rumah sanak kerabat atau sahabat. Gereja menganjurkan agar abu kremasi itu dimakamkan di pemakaman atau disemayamkan di mausoleum atau columbarium. Saat ini di tempat ziarah Pohsarang, Kediri, sudah ada tempat columbarium untuk menyemayamkan abu kremasi.
Gereja menganjurkan agar abu kremasi dimakamkan atau disemayamkan di mausoleum/columbarium agar ada tempat untuk mengingat pribadi yang meninggal sekaligus tempat kita berziarah dan berdoa.

Demikianlah beberapa hal yang mesti dipertimbangkan dalam memilih pemakaman atau kremasi. Maka dalam kondisi normal sebaiknya kita lebih memilih pemakaman Katolik. Namun bila suara hati kita condong memilih kremasi dengan alasan yang tidak bertentangan dengan iman Katolik, Gereja akan tetap melayani.

sumber : http://www.imankatolik.or.id/pilih_pemakaman_atau_kremasi.html

28 October 2009

PASTOR YANDHIE CDD DAN ALAT MUSIK ERHU

Celso Costantini, pendiri CDD menekankan pentingnya pemahaman dan penguasaan yang baik akan kebudayaan setempat. Melalui penguasaan kebudayaan yang baik, pewartaan iman yang kita lakukan akan lebih efektif dan efisien. Salah satu pemahaman budaya yang bisa kita lakukan adalah dengan mengenal dan “menguasai” alat musik daerah. Pastor Yandhie Wu CDD dalam berbagai kesempatan sering menggunakan alat musik ERHU untuk menyampaikan kabar gembira Injil kepada orang-orang. Di majalah Presbyterium edisi 8 mei 2009, Pastor Yandhie Wu dimunculkan sebagai salah satu tokohnya.
Presbyterium adalah salah satu majalah yang berbicara dan memuat tentang pembinaan calon imam dan imam. Dalam majalah ini, Confrater kita tampak dengan mantap memainkan alat musik ERHU. Pastor Yandhie menggunakan alat musik berdawai tradisional cina ini sebagai media pewartaan Iman. Sebagaimana ditekankan oleh Bapa pendiri kita, Pewartaan iman melalui kebudayaan merupakan salah satu ciri khas dari kongregasi kita. Kepada Pastor Yandhie, kita ucapkan selamat berkarya dan terus melayani Tuhan tanpa pamrih.
Tuhan memberkatimu selalu.