Congregatio Discipulorum Domini

Para anggota Congregatio Discipulorum Domini (Kongregasi Murid-murid Tuhan) menghayati hidupnya sebagai murid dan senantiasa belajar pada Yesus Kristus, sang Guru Agung. Kunjungan kepada Sakramen Mahakudus menjadi ungkapan cinta dan penyerahan diri secara total. Dari sinilah para anggota menimba kekuatan untuk karya kerasulannya sebagai murid yang diutus untuk mempersiapkan orang menyambut Kristus di dalam hidupnya (bdk. Luk 10:1-12).

09 October 2008

Misa dan Novena 50 Tahun Celso Costantini

Tanpa terasa sudah 50 tahun Celso kembali ke pangkuan Bapa di surga. Tetapi perannya dalam kehidupan sosial, politik dan Gereja tidak bisa dilupakan begitu saja.

Pada tahun ini Keuskupan Concordia-Pordenone mengadakan peringatan 50 tahun meninggalnya Celso Costantini dengan serangkaian kegiatan, seperti:

Jumat 17 Oktober: pembukaan rangkaian upacara di Katedral Concordia. Misa konselebrasi dipersembahkan oleh seorang Kardinal, didampingin oleh para uskup dari Friuli Venezia Giulia, diikuti sekitar 20 orang imam Chinese dari Kongregasi Murid-murid Tuhan yang didirikan oleh Celso Costantini di China, diikuti oleh pejabat dari daerah Veneto dan Friuli Venezia Giulia.

Sabtu 19 Oktober pukul 10.00 di Zoppola diadakan serangkaian upacara dari Comune di Zoppola dengan mempresentasikan sebuat buku tentang figur Kardinal Celso dan pembukaan tiga kegiatan lainnya.

Minggu 19 Oktober pukul 10.30 - Castions di Zoppola
Misa, pembukaan suatu karya peringatan, kunjungan ke makam Kardinal.

Minggu 18 Januari 2009 pukul 11.00 di Pordenone
Konselebrasi penutupan di Katedral, dipimpin oleh Kardinal Ivan Dias, Prefek Kongregasi Pewartaan Iman: sambutan di Balai Kota Pordenone dan penganugerahan gelar kehormatan kepada Kardinal Celso Costantini di auditorium del Vendramini.

Sementara itu, di Indonesia Provincial CDD juga memberikan pengarahan melalui surat untuk perayaan 50 tahun Celso Costantini. Masing-masing komunitas diharapkan menyiapkan perayaan itu di dalam komunitasnya, agar para anggota komunitas dapat semakin mencintai Bapa Pendirinya, dan mengambil inspirasi serta menimba semangat dari Beliau.

18 September 2008

KEBAHAGIAAN ITU ADA DIMANA?, PENDERITAAN ITU ADA DIMANA?, KAMU ITU ADA DIMANA?

Seandainya di depan kita ada 2 salib, yang satu terbuat dari emas dan satu lagi terbuat dari kayu, lalu di suruh memilih salah satunya, kamu memilih yang mana? Ah, yang benar aja? Iya!!!!!!!

Tidak gampang mengetahui berapa dalam cinta kita kepada salib suci dalam kehidupan kita sehari harinya.

Cinta kepada salib suci seharusnya bukan masalah perasaan, tapi masalah komitment kita kepada salib suci. Komitmen berarti bersedia menanggung akibat dari keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam beriman kepada Yesus Kristus.

Contoh: Martir di cina Pastor Yohanes Gabriel Preybore adalah salah satu santu pelindung CDD . Ia ditangkap karena dikhianati oleh ketekumennya dengan bayaran 3 keping uang ( bdk : dengan Yesus). Pastor ini di dera dan disuruh murtad, ia akan di lepas bila ia mau menginjak salib suci yang tergeletak di tanah, ia dalam keadaan payah dan dengan berjalan tertatih tatih menuju salib itu, ia tidak menginjak salib itu malahan memeluknya dengan penuh cinta dan dengan segala resiko yang akan dihadapi. Saudara itulah cinta sejati, komitmen.

Mari kita memandang salib suci sebagai:

  • Tanda Iman/kemenangan yaitu Yesus yang rela menderita dipaku di kayu salib, wafat, dimakamkan dan bangkit pada hari ketiga.
  • Tanda kasih, yaitu ketika Yesus di kayu salib berkata kepada murid inilah ibumu dan kepada ibunya inilah anakmu.
  • Tanda pengampunan, yaitu Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang sedang mereka perbuat.
  • Tanda keselamatan, yaitu ketika Yesus mengatakan kepada penyamun disebelahnya, mulai saat ini juga kamu akan bersamaku di taman firdaus.

Jadi salib suci adalah bersumber dari demikian besarnya kasih allah kepada dunia, sehingga Ia mengutus Putera Tunggal Nya , bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan manusia.

Bolehlah kita menyikapi Salib suci dalam kehidupan kita sehari hari sebagai :

  • Kesadaran terhadap kehadiran Yesus yang selalu bersama kita.
  • Kesadaran terhadap Rahmat Kasih Allah selalu mengalir
  • Kesadaran bahwa Yesus Kristus telah menyelamatkan kita.

Tegaljaya, 14 September 2008

04 July 2008

Kesan dan Renungan di Masa Novisiat

Sekelumit Kesan dan Renungan
oleh P. Lodewyik Tshie CDD

Dugaan saya bahwa kehidupan seorang novis di novisiat akan diatur serba keras, dalam arti mereka dididik secara otoriter. Mereka dipandang sebagai obyek yang harus dibentuk sedemikian rupa, mereka tidak boleh ada ide apalagi saran-saran. Segala keperluan mereka diatur dan dari atasan yang menentukan. Tingkah dan laku mereka diawasi secara ketat,….. dan seterusnya. Itulah dugaanku tentang profil dan pendidikan di novisiat.

Dugaan tersebut tidak berdasar, terkikis sudah, setelah saya sendiri menjalani kehidupan ini setahun. Tidak ada gejala yang turut mendukung dugaanku atau dengan kata lain tidak ada yang persis seperti apa yang pernah saya duga sebelumnya. Tidak ada!

Saya mengakui, pada minggu pertama saya menjalani kehidupan di novisiat, timbul bosan, jengkel, tidak krasan…. Dan seterusnya (gejala tidak ada panggilan?) datang bertubi tubi menghantui diriku. Keadaan tersebut tidak berlangsung lama, begitu cepat ia berlalu. Ini berkat bimbingan dari sang Magister. Pelan-pelan saya mencintai kehidupan ini dan menerimanya. Mungkin saya telah menyesuaikan diri dengan kehidupan yang serba baru dan sedikit asing ini? Aku menemukan ada sesuatu yang sangat menarik, yang selama ini tidak terlukis dengan kata kata. Biarlah ia tetap berlabuh dalam hati ini dan menjadi rahasia kedamaian dan santapan dalam hidupku.

Kehidupan di novisiat penuh damai dan cinta, jauh dari glamour kehidupan duniawi. Hubungan dengan sang Magister penuh keakraban, ceria dan kadang kadang penuh humor. Jelas dan terasa benar bahwa beliau benar benar mengenal kami , atau setidaknya dimata kami, beliau adalah seorang pembimbing yang baik bertindak sebagai supervisor. Beliau mendampingi kami (bahwasanya kami adalah actor), beliau adalah arsitek yang baik dalam hal “tut wury handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarso asung tulodo

Doa, renungan dan menghadiri misa merupakan kegiatan rutin yang urgent. Menghormati Tubuh Yesus Kristus, retreat dan pengakuan dosa (tidak pernah diabaikan) untuk mempertinggi martabat kehidupan mental spiritual. Mengerti dan memahami betapa penting dan seriusnya arti, tujuan dan kebutuhan menjalani/melakukan kegiatan tersebut, membawa kita dengan senang hati , rasa butuh dan cinta serta menjadikan kegiatan tersebut menjadi milik dan jiwa penggerak hidup kita. Melalui doa,renungan dan menghadiri Misa memperkokoh kehidupan iman, pengharapan dan cinta kepada Sang Pencipta, Allah Bapa. Melalui retreat, menghormati tubuh Yesus Kristus dan pengakuan dosa, menemukan dan merasakan getaran cinta kasih dan kerahiman Ilahi begitu besar dan agung kepada kita. Ah… apakah saya masih harus sombong, tidakkah saya harus rendah hati, tidakkah saya harus mencontohi teladan kehidupan Putera Tunggal-Nya. Kehidupan novisiat yang penuh damai, cinta dan sakral, telah berangsur angsur dan pasti menuntunku menuju jalan kehidupan-Nya, menghantarku kekehidupan seperti yang telah dirintis-Nya di Nazaret. Terdengar jelas Ia berbisik “ Hai anakku, ikutilah Aku dan berjalan bersama Ku”

Kurikulum pengajaran di novisiat, terpusat pada pembentukan mental spiritual dan mental intelektual. Materi pelajaran yang merupakan pokok kunyahan selama ini yaitu mengenal kehidupan orang kudus, menelaah kitab suci, mengenal hokum gereja, mengenal peraturan kongregasi, mengenal karya tulis bapak pendiri kongregasi, cardinal Celso Costantini. Setiap pendekatan dari tutor cukup menarik dan mudah dipahami. Setiap tutor memberi dorongan kepada kami agar aktip nalar dan kemampuan mengeluar pendapat (SAL System).Kegiatan social yang memiliki nilai kemanusiaan yaitu dalam usaha pemantapan kehidupan social spiritual, kami dipimpin oleh Magister mengunjungi Panti asuhan. Di situ terbaring sejumlah anak/bayi cacat mental dan fisik yang agaknya tidak memiliki masa depan sebagaimana anak normal lainnya. Mereka perlu perhatian, bantuan dan kasih saying. Mareka dalam pelukan kami dan mulut mereka menerima suapan bubur dari tangan kami. Ah…. Kami merasakan desahan nafas mereka secara implisit menyerukan “ye….sus, ye….sus”

Setahun saya di novisiat, menjajaki kehidupan keluarga kecil nazaret. Walaupun kehidupan nivisiat tidaklah persis dan tidak dapat dibandingkan dengan keluarga nazaret, tapi semangatnya tetap lestari dan terwariskan pada kehidupan di novisiat. Dalam kehidupan novisiat yang penuh keheningan dan kedamaian, terpusatlah segala pikiran tertuju pada-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, menerima petunjuk dan sabda-Nya, menyerahkan diri secara utuh dan menjadikan 3 (tiga) kaul sebagai pelita hidup sekarang akan akan datang. Semoga!

21 June 2008

Tujuan Prosesi


Dalam pembahasan tentang prosesi pada Hari Raya Corpus Christi para novis CDD menggali maksud dan tujuan prosesi Sakramen Mahakudus. Di dalam Eucharisticum Mysterium 59 disebutkan demikian: "In processions in which the Blessed Sacrament is solemnly carried through the streets to the singing of hymns, especially on the feast of Corpus Christi, the Christian give public witness to their faith and devotion toward this sacrament."

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prosesi Sakramen Mahakudus mengandung arti:
  1. Kristus sendiri yang hadir melawat umat-Nya dan memberikan kelepasan baginya (Luk 1:68.78; 7:16).
  2. Kristus masih tetap berkeliling mengunjungi umat-Nya seperti dahulu Dia berkeliling di seluruh Galilea, "melenyapkan segala penyakit dan kelemahan" (Mat 4:23), "menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, ..., memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk 4:18-19).
  3. Menyatakan kemuliaan Allah yang menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus (bdk. Yoh 11:40, 12:24-29).
  4. Memberkati dan menyucikan umat-Nya (Mrk 10:16; Luk 24:50).
  5. Umat Kristiani memberikan kesaksian akan imannya (EM 59).
Dengan demikian prosesi Sakramen Mahakudus merupakan suatu tindakan ibadah yang sangat indah. Dalam Eucharistiae Sacramentum 101-104 Gereja sangat menganjurkan prosesi dijalankan sedapat mungkin dalam Hari Raya Corpus Christi, yang diadakan setelah Misa Kudus.

Prosesi Sakramen Mahakudus

Brosur untuk Prosesi Sakramen Mahakudus
Menjelang perayaan Corpus Christi, Yayasan Kolese Santo Yusup hendak mengadakan prosesi Sakramen Mahakudus. Prosesi ini pertama kali diadakan tahun lalu 2007, pada penutupan Perayaan 75 Tahun CDD. Melihat kerinduan dan kecintaan umat yang begitu besar, para anggota CDD merasa perlu meneruskan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dengan liturgi prosesi. Rencananya perayaan prosesi ini akan dibuat setiap tahun. Untuk itu pada tahun ini dibuat brosur untuk dibagikan kepada umat. Tujuannya adalah agar umat mengerti asal muasal prosesi ini, dan maknanya. Selain itu, dicetak juga lagu-lagu untuk dinyanyikan selama prosesi, yang sekaligus juga dipakai untuk melindungi lilin dari tiupan angin. Isi brosur yang dibagikan itu adalah:

Yesus Kristus di Tengah Kita!
Banyak orang sulit percaya akan kehadiran nyata Yesus di dalam Sakramen Mahakudus, mereka merasa heran, bagaimana roti bisa menjadi Tubuh Kristus. Yesus pun mempunyai kesulitan yang sama meyakinkan para murid-Nya sewaktu Dia mengatakan bahwa Dia akan memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai makanan dan minuman. Banyak pengikut-Nya tidak percaya, dan meninggalkan Dia (Yoh 6:25-66). Yesus pun tidak mencoba membujuk mereka kembali kepada-Nya dengan mengatakan, “Eh, tunggu sebentar! Kalian salah mengerti! Aku berbicara secara simbolis.” Tidak! Dia membiarkan mereka pergi. Jika mereka tidak mempercayai Dia, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya.
Kita mengimani kehadiran Yesus hanya karena alasan ini: Yesus Kristus sendiri yang mengatakannya, dan kita percaya kepada-Nya.
Sampai hari ini kita tetap percaya dan ingin senantiasa bisa bersama Yesus. Yesus menjawab kerinduan ini dengan hadir di dalam rupa Hosti suci (roti yang dikonsekrasi dalam Misa), dan ditahtakan di dalam tabernakel. Dalam keheningan, sambil memandang Dia, kita merasakan kehadiran-Nya dan menyadari betapa Yesus mencintai kita sampai sehabis-habisnya.
Ibu Teresa mengatakan: “Sewaktu kita memandang salib, kita tahu betapa dahulu Yesus sangat mencinta kita. Sewaktu kita memandang tabernakel, kita tahu betapa sekarang Yesus sangat mencintai kita.”

Tradisi yang Sangat Kristiani
Kehadiran Kristus dalam rupa roti dan anggur sangat diyakini oleh umat sejak jaman dahulu, mulai dari jaman para rasul. Kemudian pada tahun 1264 Paus Urbanus IV menetapkan satu hari untuk merayakan Tubuh dan Darah Kristus. Kemudian, dalam abad ke 16, Konsili Trente menyatakan bahwa “Putra Allah yang tunggal hendaknya dihormati di dalam Sakramen Ekaristi disertai penyembahan dan ibadah lahiriah. Karena itu, Sakramen Mahakudus dihormati secara khusus dengan upacara meriah dan diarak dari satu tempat ke tempat lain dalam suatu prosesi dengan upacara khusus dan sesuai dengan kebiasaan Gereja kudus. Sakramen ini hendaknya diperlihatkan agar umat dapat menghormatinya.” Paus Klemens VII menerbitkan dokumen historis yang dikenal dengan nama Quarant Ore (Empat Puluh Jam) - di mana gereja-gereja diatur sedemikian rupa agar setiap jam, dari pagi sampai malam, umat tiada henti-hentinya memanjatkan doa-doa di hadapan Tuhan.
Melalui Adorasi dan Prosesi Sakramen Mahakudus, kita dapat melihat betapa Yesus Kristus senantiasa dekat dengan kita, mencintai kita dan menyerahkan seluruh hidup-Nya bagi kita.

Bersatu Dengan Kristus
Konsili Vatikan II mengajarkan kita bahwa Ekaristi Suci adalah “sumber dan puncak hidup Kristiani” (LG 11). Karena itulah Misa menjadi pusat kegiatan ibadah umat Kristiani. Konsili Vatikan II mendorong umatnya mengadakan adorasi Sakramen Mahakudus di luar Misa. Devosi ini bersumber dari kurban Misa dan menggerakkan umat untuk bersatu secara sakramental dan spiritual dengan Tuhan (Eucharisticum Mysterium No. 50). Paus Pius XII juga mengajar kita dalam Mediator Dei: “Praktek adorasi ini memiliki dasar yang sah dan kuat.” Paus Yohanes Paulus II berulangkali “sangat menganjurkan” devosi publik dan pribadi terhadap Sakramen Mahakudus, yang disertai dengan prosesi pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus dan Adorasi 40 Jam (bdk. Dominicae Caenae No. 3; Inaestimabile Donum No. 20-22, dan Ecclesia de Eucharistia No. 25). Paus Benediktus XVI sendiri berkali-kali menyerukan agar semakin banyak orang mencintai Yesus Kristus dan mengalami kehadiran-Nya melalui adorasi dan prosesi Sakramen Mahakudus.

Sakramen Mahakudus dalam CDD
Bapa Pendiri CDD, Celso Costantini, sangat mencintai Yesus Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Menurut Celso, Sakramen Mahakudus adalah nafas hidup kita (bdk. IVAD III,16). Dari situlah para anggota Kongregasi Murid-murid Tuhan menimba kekuatan untuk karya dan pelayanannya. “Dalam Ekaristi kita menemukan kasih yang paling besar dan paling dalam” (IVAD 6).

Berjalan Bersama Yesus
Cinta kepada Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, menghormati Yesus dalam rupa Roti, bersatu dengan Yesus secara spiritual dalam adorasi dan prosesi Sakramen Mahakudus membuat para anggota Kongregasi Murid-murid Tuhan (CDD) tergerak mengajak semua umat Kristiani mengadakan adorasi dan prosesi Sakramen Mahakudus agar:

  1. Menyadari betapa Yesus mencintai kita sehabis-habisnya dan memberikan kepada kita tubuh-Nya sendiri sebagai makanan sejati.
  2. Bersama Yesus yang mau terus berada di tengah-tengah kita dalam rupa roti dan menguatkan kita dalam perjalanan menuju kediaman surgawi.
  3. Kita tidak pernah sendirian di dunia ini, karena kita senantiasa berjalan bersama Yesus dalam peziarahan hidup ini.
  4. Mendapatkan kekuatan dalam menjalankan perintah Tuhan: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).
Prosesi Sakramen Mahakudus mengajak kita untuk selalu mengikuti Yesus dalam perjalanan hidup kita, dan menjadikan Yesus sebagai kompas peziarahan kita, sebagaimana bangsa Israel yang dibimbing tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari (Kel 14:21). Tiada hari tanpa Ekaristi, tiada hari tanpa menerima cinta Kristus, dan tiada hari tanpa meng-ungkapkan cinta kepada Kristus yang ada di tengah kita dalam Sakramen Mahakudus, sebab Dialah manna sejati dari surga (bdk. Yoh 6:25-58).