Congregatio Discipulorum Domini
07 March 2007
Tugas Baru
Selain itu, provinsial berpikir untuk memeriksakan penyakitnya. Selama ini Br. Giyanto tidak pernah mengeluh tentang kakinya yang bengkak. Dia katakan apa yang perlu dikeluhkan, karena tidak merasakan sakit apa pun. Hanya kalau terlalu banyak jalan, barulah akan terasa sakit. Karena itulah pada tanggal 8 Februari 2007 Provinsial mendampingi Br. Giyanto memeriksakan penyakitnya ke Malaysia. Mereka berdua rencananya mau ke Malaka untuk berobat, karena informasi di Indonesia bahwa dokter dan perawatan di sana lebih baik dan murah. Namun setelah tiba di Kuala Lumpur, Rm. Martin Then justru menyarankan untuk memeriksakan penyakit itu di KL saja. Alasannya karena di Malaka justru fasilitas kesehatan tidak sebaik di KL. Jadilah provinsial dan bruder tinggal di KL sambil menunggu hasil pemeriksaan.
Setelah kembali ke Indonesia, Br. Giyanto masih beberapa waktu tinggal di Batu sambil mempersiapkan Br. Andre mengambil alih tugasnya. Maka pada tanggal 5 Maret ini secara resmi Br. Giyanto pindah ke Sawiran. Sementara ini, sesuai dengan pembicaraan Rm. Sukamto dengan Rm. Provinsial, Br. Giyanto akan ditugaskan sebagai koordinator kantor Sawiran, sambil sekali-sekali membantu pembinaan.
Maka selamat bertugas, Bruder. Selama di Batu Anda sudah banyak melayani dan mengurus rumah tangga biara Batu dengan baik sekali. Kami semua merasa kehilangan.
21 February 2007
Misa Imlek

Hujan lebat turun di Malang, sudah beberapa hari. Menurut koran, memang di Malang sekitarnya diadakan hujan buatan untuk menaikkan debit air bendungan Sutami (Karangkates), untuk persiapan di musim kemarau. Sejauh ini berhasil, tetapi masih jauh dari harapan. Biaya untuk sepuluh hari sebesar 20M. Seharinya 2M.
Berhubungan dengan kepercayaan, pada hari raya Imlek bila hujan, maka itu baik. Harap maklum, karena masyarakat di China itu agraris. Maka bila awal tahun ditandai dengan hujan, itu tandanya berkat untuk pertanian. So kepercayaan ini masih dipegang sampai sekarang.
Paroki Tidar, yang menyelenggarakan Misa Imlek dengan panitia dari Karitas, juga bergembira pada hari Selasa kemarin. Imlek tidak dirayakan pas pada hari H, karena pelbagai sebab. Jadi panitia kemudian memutuskannya mengadakan pada hari selasa, chu san. Gereja dipenuhi oleh umat, dan bukan hanya Chinese saja yang hadir; mereka yang masih berkulit sawo matang juga hadir.
Saya pikir, memang perlu dicari Imlek khas Indonesia, seperti yang dituliskan Rm. Agung Wijayanto SJ. Bagiku bahkan perlu Dicari Imlek khas Gereja Katolik Indonesia. Saya berpikir, sudah saatnya Gereja memikirkan dan mencoba mengakomodasi kebutuhan perayaan seperti ini tanpa harus dibesar-besarkan dan tidak melupakan mereka yang tidak merayakannya. Jangan-jangan Gereja diidentikkan dengan golongan chinese.
Bila merayakan Imlek di Gereja, saya sangat setuju. Karena bila saudara-saudara kita yang belum beriman pada Kristus pada hari pertama tahun baru pergi ke klenteng untuk sembahyang memohonkan berkat dan pembebasan dari ciong, maka Gereja perlu memperhatikan kebutuhan rohani ini. Dalam Misa di paroki St. Andreas Tidar ini saya mengatakan bahwa saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus memohonkan berkat dan masih hidup di bawah bayang-bayang shio. Demikian pula kita yang Katolik justru pada hari Imlek datang ke Gereja selain untuk bersyukur pada Tuhan. Kita tidak perlu takut pada chiong ini dan itu, karena bagi kita, bila berpegangan pada Kristus, itu sudah lebih dari cukup. Lebih lagi, kalau mereka melakukan cisuak, kita tidak perlu lagi, karena Kristus sendiri memberikan kepada kita Tubuh dan DarahNya sebagai makanan sejati, sebagai jaminan bagi kita.
Selain itu, dalam bahasa mandarin ada ungkapan 好事成双 (haoshi cheng shuang) yang artinya hal-hal yang baik (harus) datangnya sepasang. Kalau kita melihat ke badan kita, mulai dari kepala, ada sepasang mata, hidung, telinga. Karena mulut satu, maka dia tidak baik, karena sering membicarakan orang lain (secara negatif). Begitu juga paru-paru, ginjal. Jantung memang satu, tetapi terdiri dari dua bilik (sepasang kan), selain itu memang Tuhan memberikan satu jantung, supaya kita menemukan jantung hati lain yang menjadi pendamping hidup.
Demikian juga dengan hidup kita. Dengan merayakan Imlek, kita meninggalkan segala bentuk hidup kita yang lama, memasuki tahun yang baru dengan semangat baru, situasi baru, tingkah laku yang baru, dan seterusnya. Tentu kita tidak tahu bagaimana hidup di masa depan ini. Barang kali akan banyak kesulitan yang kita hadapi. Tetapi jangan membiarkan hati kita sendirian, dan kita jangan menutup diri. Sebab ada Kristus bersama kita. 好事成双, itulah yang kita pegang. Kita biarkan hidup kita ditemani oleh Kristus, didampingi oleh Kristus. Jadi hati kita ada bersama dengan Kristus dan biarkan Dia meraja di hatiku dan hatimu. Maka semuanya akan menjadi baik.

Dan satu hal yang menyenangkan buat saya secara istimewa karena Rm. Yuki ikut konselebrasi Misa Imlek ini. Saya pribadi sudah lama berangan-angan agar dalam setiap kegiatan yang melibatkan anggota CDD, teristimewa pada perayaan-perayaan khusus, di mana salah satu anggota CDD ditanggap untuk memimpin suatu acara (entah Misa, entah seminar, apa pun namanya), selalu ada anggota CDD lainnya yang ikut serta. Di sini kita menunjukkan kesatuan dan kebersamaan kita.
Maka selamat merayakan Imlek. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
20 February 2007
Pesta Perak Imamat

Siapa sangka Rm. Willy sudah 25 tahun ditahbiskan? Waktu berlalu cepat amat, dan tanpa terasa pesta perak di depan mata. 7 Februari 1982 Rm. Willy ditahbiskan sebagai imam di Katedral Malang oleh Mgr. F.X. Hadisoemarto O.Carm.
Dalam sharingnya, Rm. Willy pertama-tama mengucapkan banyak terima kasih kepada Ordo Karmel, karena merasa bahwa Ordo Karmel banyak berjasa dalam hidupnya. Lalu menyebutkan juga beberapa imam ordo karmel, dan dua orang imam projo. Merekalah yang membentuk hidupnya sebelum bekerja di Kolese Santo Yusup di bawah Pastor Joseph Wang.
Hadir dalam Misa yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari 2007 ini romo provinsial CDD yang menjadi selebran utama, bersama Rm. Lodewyik, Rm. Djohan, Rm. Sukamto, Rm. Yuki, Rm. Marianus, Rm. Prasetyo, Rm. Rudy, Br. Joseph, Br. Andre, dan Br. Hermus. Beberapa undangan Romo dan Suster juga hadir, termasuk Rm. Pidyarto O.Carm yang ditahbiskan bersama Rm. Willy 25 tahun yang lalu.
Rm. Willy senang sekali karena seluruh perayaan berlangsung secara amat sederhana. Tidak perlu wah memang, namun itu mencerminkan kesederhanaan dirinya (atau nyetrik?). Terlepas dari apa pun kata orang, barangkali motto tahbisannya: ..., aku tahu kepada siapa aku percaya, ... (2Tim 1:12). Rm. Willy mengatakan di depan dan di belakang kata "aku tahu kepada siapa aku percaya" masih ada titik-titik, artinya ada sesuatu di depannya dan ada sesuatu sesudahnya. Inilah yang perlu selalu dilengkapi.
Setelah selesai Misa, diadakan jamuan sederhana. Ternyata Bpk. Uskup Mgr. Pandoyoputro hadir. Ini menambah kegembiraan Rm. Willy. Perayaan ini menjadi perayaan penting di dalam CDD karena jarang sekali dalam CDD ada kegembiraan karena tahbisan dan kaul kekal, karena memang anggotanya sedikit. Namun apakah suatu hari demografi seperti ini akan terus berlangsung ataukah akan ada semakin banyak panggilan? Hal ini baru bisa terwujud bila para anggotanya selalu menjadi SAKSI iman dalam hidup dan karyanya. So fokus bukan pada pekerjaan, tetapi pada panggilan.
Proficiat Rm. Willy, engkau tahu kepada siapa engkau percaya, dan semoga orang bisa melihat dan semakin mengenal siapa yang engkau percayai itu.
03 February 2007
Buku Misa

Akhirnya di majalah Hidup No. 05 Tahun ke-61, 4 Februari 2007, sudah diiklankan TPE Dwibahasa Mandarin Indonesia. Menarik sekali karena disebutkan PERTAMA dan SATU-SATUNYA di INDONESIA. Bukunya sih masih dicetak, rencana dari Dioma 5000 expl. Termasuk jumlah yang besar untuk cetakan pertama. Sampai sekarang sih dari Dioma belum membicarakan soal royalti dengan saya. Hal ini tidak penting, karena tujuan utamanya adalah agar tersedia buku Misa bahasa Mandarin yang disertai Pinyin agar dapat dipakai oleh pelbagai komunitas umat berbahasa Mandarin di seluruh Indonesia. Bila mereka kesulitan mendapatkan pastor untuk mempersembahkan Misa, sekarang setidaknya pastor-pastor itu bisa memakai pinyin yang membantu mereka membaca. Kalau untuk Doa Pembuka, Doa Persiapan Persembahan, Doa Penutup, Bacaan dari Kitab Suci, semuanya cukup dengan bahasa Indonesia, supaya semua umat yang hadir dalam Misa bahasa Mandarin pun mengerti dan mendengar Sabda Allah. Jangan karena mau Misa bahasa Mandarin semuanya memakai bahasa Mandarin, sehingga umat yang tidak mengerti pun dapat mengikuti Misa dengan baik dan mengerti Sabda Allah.
Semoga ini menjadi tantangan untuk penerbitan buku yang lain. Semakin banyak menulis, semakin banyak pula kita belajar. Kata Celso untuk para anggota CDD: para murid Kristus hendaklah seorang pii e letterati (saleh dan terpelajar). Keterpelajaran inilah diwujudkan dengan menulis buku.
31 January 2007
Buku Misa Mandarin Indonesia
Ada beberapa pertimbangan mengapa aku setuju:
- Dari draft yang aku sediakan tinggal menambah sedikit saja, yakni DSA I & IV plus beberapa prefasi seperti: Adven I & II (dari Minggu I Adven sampai 16 Desember, dan 17-24 Desember); Penampakan (Epifani); Prapaskah; Sengsara; Paskah; Pentakosta; Minggu Biasa I & II, Ekaristi dan Maria.
- Buku itu bisa dipakai oleh banyak komunitas yang mau merayakan Misa dalam bahasa Mandarin setiap minggu, dan dapat membantu mereka yang kurang bisa bahasa ini, terutama kaum muda.
- Tidak terlalu menonjolkan Misa Imlek, tetapi menempatkan Imlek dalam kerangka Liturgi Gereja.
Hari ini hari terakhir, karena besok sudah harus dicetak. Untung semua sudah jalan lancar, meskipun masih ada sedikit kesalahan. Karena itu besok pagi aku harus ke penerbit, untuk mengkoreksi beberapa kesalahan. Moga-moga siang sudah beres, dan bisa dicetak.
Selain itu, aku berharap agar para anggota CDD ikut mensosialisasikan buku ini, agar semakin banyak orang yang mau ikut Misa Mandarin bisa terbantu. Bukankah ini salah satu yang menjadi tanggung jawab para anggota CDD, yakni 以文化众. Dan juga sekalian bisa ikut memperkenalkan nama CDD.